Cerita Piknik,  Kuliner

Piknik Palembang, Makan Pempek sampai Mblenger

Dalam istilah Jawa, mblenger adalah kondisi bosan, kebanyakan, kekenyangan yang ditujukan pada makanan. Seperti itulah pengalaman saya ketika piknik ke Palembang. Makan pempek sampe waleh.

Aneka-Pempek-di-toko-oleh-oleh-Lenggok-Palembang
Aneka Pempek di toko oleh-oleh Lenggok Palembang

Di Palembang keberadaan penjual pempek sangat banyak. Setiap lewat jalan raya, selalu ada warung penjual pempek. Begitupun dalam sebuah acara, pempek selalu terhidang di meja. Herannya, orang Palembang kok ya selalu ikutan makan, lho! haha

Menurut teman Palembang saya, di rumahnya hampir tiap hari makannya pempek. Saban 3 hari sekali, ibunya selalu membuat pempek.

Apakah mereka tidak mblenger? Jawabannya tidak. Salut, lho, sama orang Palembang. Di tengah maraknya menu modern dan restoran cepat saji, mereka masih menjunjung tinggi makanan khas daerahnya.

Saking cintanya dengan pempek, di manapun berada, makannya pempek. Sekalipun ada penjual pempek naik sepeda keliling, dibeli juga!

Piknik Palembang, Makan Pempek sampai Mblenger

Perkenalan saya dengan pempek di Palembang bermula ketika kendaraan kami berhenti di depan sebuah hotel. Kebetulan di seberang hotel tersebut ada toko pempek Candy. Hebohlah teman-teman semua.. “Waaah, ada Pempek Candy!! Nanti kita beli, ya..!”

Dari sekian orang yang ramai ngomongin nikmatnya pempek Candy, hanya saya yang bengong. Lalu bisik-bisik mencari tau, “emang kenapa dengan pempek Candy? Enak banget, ya?”

“Aduuh, mbak Yunii.. gak tau pempek Candy? enak tauuu, mbaakk..” .. “Pempek Candy ini ngehits, lho. Rata-rata orang pulang dari Palembang pasti bawa pempek itu. Tapi harganya lumayan mahal..”

Biasanya begitu. Iya, nggak? hehe..

Ngiler Pempek Palembang

Selama seharian di Palembang saya memang belum melihat penampakan pempek sama sekali. Ketika kunjungan hotel, saya pun iseng tanya panitia, “Pak, kita nggak ada acara makan pempek?”. Ya, mumpung di Palembang, kaan..

Dijawab oleh panitia, “Oh, tenang sajaa. Sekarang pun makan pempek bisa. Tuh, di meja!” tangannya menunjuk piring-piring yang terdapat aneka jenis pempek.

Pempek-Hotel-di-Palembang
Pempek di salah satu hotel di Palembang

Hanya dalam hitungan menit, sepiring pempek itu ludes oleh rombongan kami. Itupun saya hanya mendapatkan sepotong tipis pempek lenjer.

Mendapati piring pempek tandas, petugas hotel menginfokan segera mengisinya kembali.

Demi pempek, saya dan teman-teman duduk manis menunggu kedatangan pempek baru. Demi pempek pula, sengaja kami tidak mengikuti rangkaian acara hotel. Takut kehabisan lagi! haha. Kami memilih duduk di bangku resto sambil menunggu piring pempek terhidang kembali. Biarin dikata nggragas, mumpung di Palembang, hehe.

Makan Pempek di Rumah Dinas Walikota Palembang

Acara hotel selesai, kami kepuasan makan pempek. Selanjutnya kami diajak bertamu ke rumah dinas walikota Palembang.

Tak disangka, ketemu pempek lagi!

“Mau pempek lagi, tuh di sana. Buruan sebelum antri..” bisik Pak panitia ke saya.

Belum juga beranjak, antrian meja pempek seketika puanjaaang dan rapat. Semua orang mengambil beberapa biji dalam mangkuk keramik mungil. Termasuk saya. Saya mengambil 5 biji pempek beraneka jenis.

Hidangan-pempek-di-Rumah-Walikota-Palembang
Pempek yang rasanya uwenaaaakkkk

Daann, saya menyesal, kali ini pempek yang saya makan rasanya enaak. Di dalam pempek pistel ada isian ebi. Ada juga pempek yang isinya telur.

Tapi sayang, kebanyakan makan di hotel, saya tak sanggup menghabiskan pempek suguhan rumah walikota. Saya hanya mampu makan 2 biji. Hiks!

Cara Makan Pempek yang Baik dan Benar

Dalam keadaan semua tenggelam dalam pempeknya masing-masing, Bapak panitia memberikan tutorial cara makan pempek yang baik dan benar. Hayo, ada yang tau cara makannya?

Dicocol? Salah!
Itu sih, cara saya.. makan pempek dengan cara dicocol dalam genangan cuko!

Jadi, cara makan pempek yang baik dan benar adalah dengan meminum cukonya terlebih dahulu (disruput), selanjutnya digigit pempeknya.

Aneh, ya? Iya. Dan semua orang seruangan cara makan pempeknya salah semua! haha

Penyajian pempek di Palembang satu orang memegang 2 wadah. Wadah satu buat pempek, wadah lainnya buat cuko.

Begitu!

Jajan Pempek di Jakabaring

Besok paginya, setelah jalan-jalan di Jakabaring, saya dan teman-teman jajan Pempek di jalanan. Kebetulan ada tukang pempek keliling yang ngetem di bawah tiang rel LRT. Kami semua beli, dong.

Seporsi pempek harga Rp. 5.000,- dapatnya 5 biji. Penjualnya pakai sepeda onthel gitu. Rasanya lumayan enak.

Oke, pagi-pagi sudah sarapan pempek.

Pempek-Tukang-Keliling
Pempek Tukang Keliling di sekitar Jakabaring Sport Center

Apa tidak mules perut kena cuko? Nah, itu uniknya pempek. Kalau masaknya bener, cuko tidak membuat perut mules. Paling gigi yang mudah rontok kebanyakan asam, hehe.

Waktu yang benar memang begitu. Teman saya yang asli Pelembang mengatakan sewajarnya pempek dimakan pada pagi hari. Sebagai menu sarapan. Buat makanan siang, sore, dan malam, nggak papa juga.

Sepulang jajan, mandi-mandi cantik, kami diminta kumpul ke ruangan. Coba disuruh apa? Makan Pempek! Haha..

Ya ampuun, kenapa harus pempek lagiiii..

Icip-Icip Pempek Candy

Kebetulan, malam kedua saya dan teman-teman menginap di hotel yang tetanggaan dengan toko pempek Candy.

Karena ada teman yang pengin beli buat oleh-oleh, kami pun ramai-ramai ke pempek Candy. Yang beli satu orang, yang lainnya nemenin sekaligus pesta pempek!

Lah gimana, tanpa diminta, pemilik toko langsung menghidangkan piring-piring pempek di meja. Otomatis sambil ngobrol, reflek kami makan. Cara bayarnya mirip restoran nasi Padang gitu. Siapa habis berapa lalu dikalikan rupiah.

Malam itu saya sudah eneg banget. Bukan eneg gak suka, tapi perut masih separuh kenyang. Akhirnya saya makan pempeknya bagi dua sama teman. Nggak tau kenapa, tiap makan pempek perut saya cepet kenyangnya.

Singkat kata malam itu saya masuk kamar dalam keadaan kekenyangan parah.

Borong Pempek

Hingga hari ke 4 saya di Palembang, segala macam kegiatan selalu bertemu dengan pempek. Menjelang jadwal kepulangan, saya balik ke toko Candy borong pempek untuk belikan titipan teman-teman di Surabaya.

Sekotak besar oleh-oleh saya bawa pulang. Ketika ditimbang di bandara beratnya mencapai 20,1 kg sudah termasuk koper. Maksimal banget, untung gak kena charge bagasi.

Pempek-Lorong-Basah-Culinary-Palembang
Penjual Pempek di Lorong Basah Night Culinary Palembang

Untuk oleh-oleh di rumah, saya juga bawa pempek. Tapi bukan pempek Candy. Saya beli di kawasan tua Palembang dengan harga per bijinya Rp. 1.000! Murah banget. Saya beli Rp. 150.000,-!

Kenapa tidak beli pempek Candy? Sebab di Palembang buanyak banget toko Pempek. Bahkan ada gang yang menamakan diri kampung pempek. Harganya murah-murah.

Walaupun beli banyak, saya pikir hanya sebagai buah tangan saja. Toh, saya sudah makan banyak di Palembang.

Nyatanya, sampai di rumah, sekali makan pempek saya langsung tandas 10 biji. Duuh, jadi menyesal beli 150 biji. Sementara kalau ingat di Palembang, makan 2 biji aja perut sudah gak bisa gerak.

Sampai sekarang, bila ingat pempek, lidah saya trecep-trecep pengin terbang ke Palembang. Di Surabaya sebenarnya ada restoran pempek, tapi rasanya tak seasik di Palembang. Saya tidak tau kenapa, yang jelas pempek di Surabaya porsinya dalam piring lebar dengan siraman cuko ditambah potongan mie kuning dan timun. Rasa pempeknya sendiri tidak terlalu terasa ikan.

Atau teman-teman punya rekomendasi Pempek enak di Surabaya, share dong..

Leave a Reply

Your email address will not be published.