Merayapi Sejarah Islam di Masjid Paneleh Surabaya

Merayapi Sejarah Islam di Masjid Paneleh Surabaya. Haaii, pernahkah kalian merasa bangga telah menemukan sejarah peradaban yang belum banyak di ketahui orang? Hmm, maksudku tempat bersejarah tapi (entah) tidak diketahui atau tidak tidak minati orang, padahal sungguh tempatnya sangat memukau..

Adalah Masjid Paneleh Surabaya, Masjid yang disebut-sebut sebagai saksi bisu penyebaran agama islam di Surabaya oleh Wali Songo.

Foto kiriman Yuniari Nukti (@yuniarinukti) pada

Merayapi Sejarah Islam di Masjid Paneleh Surabaya saya lakukan tiga hari lalu. Tiba-tiba kepikir ingin menunaikan sholat Dhuhur di Masjid Paneleh. Dari rumah sengaja di niatkan sholat ke mari, walaupun ada maksud lain yang tersembunyi, yaitu melihat lebih dekat detail Masjid Paneleh yang konon dianggap sebagai Masjid yang usianya lebih tua dari Masjid Ampel Surabaya.

Sayangnya saat itu saya kesiangan, tiba di Masjid, adzan sudah berkumandang. Setelah susah payah mencari tempat wudhu wanita, yang kemudian ketemu walaupun sempat bersusah-susah membuka pintu jati tua, jalur masuk area wudhu khusus wanita. Entah, karena lama tidak di buka atau memang kayunya yang semakin tua sehingga sulit sekali di dorong. So, saya jadi Makmun Masbuq!

Pintu terbuka itu adalah akses tempat wudhu wanita. Susah payah di buka, yang lewat hanya saya seorang :D

Pintu terbuka itu adalah akses tempat wudhu wanita. Susah payah di buka, yang lewat hanya saya seorang 😀

Inspirasi sholat di Masjid ini awalnya dari sebuah artikel buletin bulanan YDSF. Di Majalah itu terpampang ruangan Masjid yang tampak indah. Tentang Masjid ini, sebenarnya sudah lama saya dengar, namun penyampaian lokasi yang tidak tepat mengurungkan saya datang ke mari. Namun, bagai sebuah petunjuk, buletin YDSF memberikan alamat detail, yaitu Jalan Paneleh V Surabaya. Seketika saya berangkat ke sana.

Gang masuk menuju Masjid Paneleh Surabaya

Gang masuk menuju Masjid Paneleh Surabaya

Dari Rumah saya berangkat jam 11. Dengan harapan tidak ketinggalan sholat sekaligus bisa ngobrol-ngobrol dengan warga sekitar. Rupanya mencari alamat Paneleh V sempat melumpuhkan keyakinan saya. Bagaimana tidak lumer hati semangat saya, meniti gang-gang sempit dan tak terlihat pun menara atau apalah yang memberikan ciri bahwa di dalam sana ada Masjid. Masjid lho ya, bukan Mushollah!

Tiba di mulut gang Paneleh V, saya meragu. Antara masuk atau mengurungkan niat. Dari depan gang sempit yang padat, sama sekali tak nampak ada bangunan Masjid. Dengan tetap menaiki motor, saya dan Mas Rinaldy masuk ke dalam gang. Berharap menemukan Masjid itu. Daan.. siapa sangka, ternyata di tengah-tengah (kurang lebih 4-5 rumah dari depan gang) tampaklah jendela-jendela kayu lebar yang terbuka seutuhnya.

Masjid Paneleh Surabaya tampak belakang

Masjid Paneleh Surabaya tampak belakang

Ini dia Masjidnya…. pekik saya dalam hati.

Eits, tiba-tiba ada seorang warga menegur kami bahwa di dalam gang, motor di larang keras dinaiki! Duh, kan.. andaikan ada rambu-rambu di depan gang, niscaya saya akan turun dari motor. Ya sudahlah, terlanjur, besok-besok kudu turun..

Selain jendela kokoh nan gagah, keberadaan Masjid ini bisa ditengarai dari lengkungan separuh lingkaran di bagian Imam. Ada sih menara, namun karena bentuknya sangat sederhana dan ketinggiannya tergerus bangunan rumah penduduk yang posisinya lebih tinggi menjadikan Masjid ini semkain tenggelam.

Foto kiriman Yuniari Nukti (@yuniarinukti) pada

Masjid Paneleh Surabaya memiliki banyak pintu masuk, di bagian depan dan samping. Tempat wudhu jamaah laki berada di bagian depan, bersampingan dengan pintu masuk. Di bagian atas terdapat untaian doa Masuk Masjid, doa Keluar Masjid dan doa Itikaf. Masjid ini juga dilengkapi loker khusus.

Menara Masjid yang sederhana. Bagian Imam dengan ventilasi bulat

Menara Masjid yang sederhana. Bagian Imam dengan ventilasi bulat

Begitu masuk, aura segar langsung menyambut saya. Bukan karena AC, dugaan saya langit-langit masjid tinggi dan luas membantu udara keluar masuk dengan lancar. Lantai bersih nan mengkilap memantulkan suasana sekitar, menyaput seluruh pandangan.

Tiang-tiang kayu jati berwarna keemasan yang menghiasi bagian tengah Masjid dikenali sebagai penyangga bangunan. Atap-atap kayu berwarna senada memenuhi atap bangunan, semakin menambah keeksotisannya. Di bagian 4 sisi atap Masjid terukir nama-nama Khulafaur Rasyidin; Abu Bakar Ash Shidiq ra, Umar Bin Khatab ra, Ustman bin Affab ra, dan Ali bin Abi Thalib ra. Yang paling terlihat mencolok adalah tulisan arab di ventilasi berbentuk segitiga yang tersebar di seluruh jendela. Jika di eja satu persatu akan terbaca nama-nama 25 nabi.

Masjid Paneleh

Saya sempat kebingungan mencari tempat wudhu khusus wanita. Beruntung ada seorang Bapak yang menuntun saya membawa ke sebuah pintu kayu jati di bagian sisi kiri Masjid. Lokasinya jauh ke dalam, hampir mendekati Imam sholat. Sisi yang saya indikasi sebagai tempat sholat wanita itu sepi, tak ada satupun jamaah perempuan. Yang tampak hanya kelambu penutup berwarna hijau dengan kipas angin menyala keras.

Si Bapak yang teramat sabar itu, selain menunjukkan tempat wudhu, beliau juga membantu saya membukakan aksesnya. Derit pintu membahana, dan hampir sedikit di paksa sambil si Bapak memaksa menyorongkan pintu berdua sisi itu agar terbuka. Meski saya berusaha membantu membuka slot-slot di bagian atas, tengah, dan bawah, tetap saja si pintu ngambek. “Apa karena jarang di buka?” seilidik saya.

Di ruang wudhu, terasa sekali sunyi. Ada bekas gudang kecil, seperti kesepian. Lantai kekuningan khas model lantai jaman dulu terasa kasar, seakan jarang tersentuh kaki. Namun yang lebih membahagiakan, air krannya mengalir kencang. Bagi saya itu lebih dari cukup. Begitupun air di kolam bilas kaki, tampak beniing sekali. menunjukkan bahwa meski jarang di lewati, namun takmir menjaga sekali kebersihan tempat wudhu masjid ini. Konon, air wudhu di Masjid ini memiliki berkah dan khasiat. Percaya atau tidak, saya telah merasakan air wudhu di Masjid ini. Memang segar! Allahu Alam Bishowab.

Sudut lain tempat wudhu wanita. Pintu belakang dengan undak-undakan  yang mirip gapura kawasan Ampel

Sudut lain tempat wudhu wanita. Pintu belakang dengan undak-undakan yang mirip gapura kawasan Ampel

Menurut sejarah, Masjid ini didirikan oleh Kanjeng Sunan Ampel pada 1421. Meski saya tidak melihat prasasti, namun dinding bangunan dan pilar 10 kayu jati telah mewakili jawaban.

PANELEH MASJID

PANELEH MASJID

Merayapi Sejarah Islam di Masjid Paneleh Surabaya berakhir dengan perasaan takjub. Menyesal saya tidak mengetahui masjid ini dari dulu. Dan diam-diam saya mencintai Masjid Paneleh Surabaya.

  1. author

    juju2 years ago

    merayapi -_-

    Reply
    • author

      dWi (nining)2 years ago

      Buahahahaha kok kita samaan, “merayapi” bikin “meriang” :)))))

      Btw Peneleh apa Paneleh ya mam?

      Reply

Leave a reply "Merayapi Sejarah Islam di Masjid Paneleh Surabaya"