Ziarah ke Astana Giribangun Karanganyar, Makam Megah Pak Harto dan Bu Tien

Berkunjung ke Karanganyar, kudu mampir ziarah ke Astana Giribangun, makam Mantan Presiden Indonesia ke 2, Pak Harto dan Bu Tien Karena hanya disinilah rakyat Indonesia bisa melepas kekangenan terhadap senyum sumringah mantan penguasa negeri yang dijuluki ‘The Smiling General’.

Astana Giribangun Karanganyar

Untuk menuju ke Astana Giribangun, saya harus melalui jalanan aspal halus yang berkelok dan menanjak tajam. Saya bersama rombongan peziarah harus menumpang sebuah colt karena bis yang saya tumpangi sedang bermasalah. Tiba-tiba saja, saat melalui desa Ngadiluwih, Matesih, Karanganyar, bis itu mogok. Karena perjalanan masih jauh, panitia beralternatif menyewa sebuah colt berisi 12 orang yang seorang dikenai urunan 15 ribu Rupiah. Dari Surakarta menuju Astana Giribangun jaraknya sekitar 35-40 kilometer-an.

Sepanjang perjalanan menuju Astana Giribangun, areal persawahan terbentang luaaas. Selain padi yang sudah merunduk, tanaman jagung, cabe rawit kehijauan, kubis, dan brokoli jadi santapan mata saya yang terpesona. Dari kejauhan, tampak gunung Lawu menjulang bergradasi awan biru. Bukit-bukit hijau yang tinggi tak luput jadi incaran. Kata Pak sopir, di bukti hijau itulah tujuan perjalanan kami.

Sebelum berziarah ke Astana Giribangun, kami lebih dulu menuju Astana Mangadeg alias makam Pangeran Samber Nyowo. Siapa Pangeran Samber Nyowo? Ada dipostingan selanjutnya, yah ….

Baca juga: Wisata Hoofdbureau: Napak Tilas Jejak Perjuangan Kepolisian di Surabaya

Tiba di Astana Giribangun, areal parkir tampak sepi. Yang terlihat hanya colt angkutan umum sekitar 5 unit yang membawa saya beserta rombongan. Beda banget dengan suasana lahan parkir makam wali yang kerap dipenuhi bis-bis rombongan peziarah. Apalagi cuaca yang sedari siang mendung, membuat suasana sekitar Astana Giribangun jadi terasa singup. Di bagian ujung, terdapat lapak pedagang yang menjajakan aneka makanan khas Karanganyar seperti Opak jepit, jenang wijen, dan intip goreng. Hanya sekitar 3-4 lapak saja yang buka, sisanya pedagang lijo yang membawa kubis, petai, dan brokoli. Murah, lo, brokoli dijual 10 ribu dapat 5. Kubis sekranjang dihargai 10 ribu … ada juga penjaja kaos bergambar Pak Harto senyum dengan tagline khasnya, Penak Jamanku, toh!

Penjual Souvenir di Astana Giribangun

Menuju ke kompleks makam Astana Giribangun, peziarah harus menaiki anak tangga yang terbuat dari batu kali hitam berbentuk dadu raksasa. Tatanannya rapi, dan hampir semua bangunan disusun dari bebatuan. Komplek pemakaman terletak diatas, sedangkan dibawahnya terdapat Masjid dan pendapa. Saya gak keliling sampai ke belakang karena penjagaannya kaku. Berseragam biru dongker khas Satpam, tapi lagaknya kayak Paspampres. Risih aja kalau kemana-mana dilihatin. Gak nyaman.

Komplek Makam Pak Harto dan Bu Tien di Astana Giribangun

Bangunan Astana Giribangun terdiri dari beberapa ruangan. Bentuknya mirip pendapa Jawa yang dinamakan Cungkup. Cungkup utama bernama Cungkup Argosari yang didalamnya terdapat 5 makam, yaitu makam Pak Harto dan makam Bu Tien disebelah kanan, makam orangtua Bu Tien di tengah, yang paling kiri terdapat makam perempuan cantik dan mudah, saya gak lihat namanya, hehe … googling aja yak!

Cungkup Argosari Astana Giribangun

Diluar Cungkup utama terdapat Cungkup Argokembang. Tempatnya luas, bersih, ada beberapa makam juga. Setiap makam selalu dilengkapi dengan foto, kembang, dan kendi. Terlihat banget perawatannya, rapiii. Iyalah, namanya juga makam mantan petinggi negeri, keluarga ningrat, lagi!

Cungkup Argokembang Astana Giribangun
Cungkup Argokembang

Saya gak lama foto-foto disini, lagi-lagi malesin ditunggui sama petugas yang buru-buru menyuruh masuk. Padahal, banyak foto-foto Pak Harto beterbaran dengan bingkai dan kalimat mutiara.

The Smiling General
The Smiling General

“Wowww, indahnyaaa …” dua kata yang terucap saat itu sambil mata saya tak henti melihat sekelilingnya. Bayangkan, bagaimana tidak berdecak kalau seluruh dinding 4 sisinya terbuat dari ukiran kayu. Tiang-tiang kayu juga menyanggah bagian atap yang juga dipenuhi ukiran. Sebagai pelengkap, dibagian tengah ruangan tergantung kuncup bunga (terlihat seperti mawar) yang lagi-lagi dari kayu ukiran. Tersapu cahaya lampu, pernisnya terlihat berkilauan. Satu kata, Kereeennn!

Pintu ukir Astana Giribangun
Pintu ukir Astana Giribangun

Di bagian makam, selain foto Almarhum/mah, yang mencolok adalah kijing marmernya. Saya sih gak ahli perbatuan, cumaaaan, jiwa saya bisa ngomong kalau itu batu mahal, ciyeee, haha.. sok tau, loh, Ma!

Iseng, nih, iseeng. Saya browsing di google, konon kijing marmer makam Pak Harto diimpor langsung dari Tulungagung. Jenis marmernya B1 putih dengan ketebalan 5 cm. Harganya berkisar 20 jeti! Belinya tahun 1996, lho. Tahun segitu bayar sekolah saya masih enam ribu per bulan, haha … Ah, memang Mama Minta Piknik bener ini ngurusi harga kijingan orang, wakaka..

Astana Giribangun
Woi tahlil, woi! Malah foto-foto! 😀

Udah, ya. Selesai bahas kijingan. Sekarang saya mau bahas tukang foto Astana Giribangun.

Jadi gini selama tahlilan di dalam makam, ada 2 orang yang memantau kegiatan kami sambil nenteng kamera. Jelaas, menandakan dia tukang foto keliling. Wong pakai seragam kok. Sepertinya pihak yayasan menyediakan tukang foto khusus soalnya perangkat cetaknya di taruh gitu aja di area makam. Dan tukang fotonya sigap, lho. Begitu selesai mengucap Amiin, langsung aja dia nyamperin peziarah dan memberikan spot buat pengambilan gambar dengan biaya Rp. 20.000,-. Otomatis, pengunjung lain seperti saya yang bawa kamera henpon ini tersingkirkan, kejaaam!

Makam Pak Harto dan Bu Tien di Istana Giribangun
Setelah menunggu, dapat juga foto disini. Gak lama, diusir lagi sama Tukang Foto. Demi duit, yee 😀

Dari sekian kemewahan Astana Giribangun yang saya sebutkan diatas, saya tidak menemukan kenyamanan. Yaitu minimnya cahaya ruangan. Iyalah, umumnya makam itu gelap. Namun dengan segala kemegahan ukiran dan lain sebagainya, kok sayang banget kalau gelap. Makin terlihat singup. Saya kesana jam 5 sore, tapi kok gak yakin kalau siang makam ini bisa terang karena didalam ruangan sama sekali tidak ada jendela.

Masuk ke Astana Giribangun, peziarah hanya diminta isi buku tamu dan menyerahkan sejumlah uang seikhlasnya kepada petugas.

Makam Pak Harto dan Bu Tien

Bagi yang ingin mengunjungi Astana Giribangun Karanganyar, Makam Megah Pak Harto dan Bu Tien, saya sarankan hati-hati, terutama saat melalui anak tangga. Jalan berbatu yang tak rata dan gelap memicu orang terjatuh. Seperti tetangga saya yang jatuh duduk, dan esoknya kakinya bengkak keseleo. Saya juga kena imbasnya, jatuh duduk tau-tau lutut saya perih. Hanya luka kecil, sih, tapi sambil mikir, saya pke rok panjang yang didalamnya ada lapisan celana sebatas lutut, kok bisa luka. Padahal jatuhnya gak seberapa. Untung gak keseleo..

Astana Giribangun

Ziarah ke Astana Giribangun Karanganyar, Makam Megah Pak Harto dan Bu Tien jadi pengalaman piknik unik tersendiri. Semoga selain makam, pihak yayasan berpikir menambah ruangan untuk menyimpan barang-barang koleksi Pak Harto dan Bu Tien selama menjabat jadi Presiden dan Ibu negara.

  1. author

    Ria Rochma1 year ago

    Ibu yang pernah ke sana, katanya memang beneran megah. Dan baca ini, bisa bayangkan semegah apa sebuah makam. Hehe

    Reply
  2. author

    Keke Naima1 year ago

    megah banget untuk makam, ya 😀

    Reply
  3. author

    cumi1 year ago

    Aku bolak balik lewat depan nya tapi blm minat mampir

    Reply
  4. author

    imeldasutarno1 year ago

    20 juta tahun 1996?? #KemudianPingsanDiPangkuanBradPitt. Ya Allah mbak, itu aku masih kuliah tingkat 2 tahun segitu, dan 20 juta di tahun itu oh …muahal suekaliiii….
    Kocak juga ya di area makam yang sakral begitu pedagang malah jualan kaos yg gambarnya meme penak jamanku, hehehe…salam kenal ya mbak

    Reply

Leave a reply "Ziarah ke Astana Giribangun Karanganyar, Makam Megah Pak Harto dan Bu Tien"